Kartu Kredit Dibobol

Saat itu, ia sedang duduk menunggu rekannya di sebuah kafe. Sembari menunggu, seperti biasa ia mengeluarkan komputer jinjing dan asyik berselancar di dunia maya. Tas diletakkan persis di samping kanan. Kondisi kafe yang terletak di bagian depan pusat perbelanjaan itu cukup ramai. Tiga orang wanita dewasa terlihat sedang sibuk mencari-cari tempat duduk kosong. 

“Yuk duduk sini aja,” kata salah satu dari mereka sambil melihat bangku kosong di samping tas. Salah satu perempuan duduk cukup dekat dengannya. Tidak ada pikiran buruk apapun saat itu. Seingatnya, salah seorang pergi (mungkin memesan minum) lalu duduk lagi. Tidak lama kemudian, tiga wanita tersebut pergi tanpa terlihat membeli makanan dan minuman apapun. 

Sekitar 30 menit kemudian, ponsel di tasnya berdering, suami menelepon. “Apa baru beli emas?” tanya suami, karena merasa sang istri tidak pernah membeli emas menggunakan kartu kredit. Kartu kredit hanya digunakan untuk sejumlah transaksi online yang hanya bisa dibayarkan menggunakan kartu kredit.

“Ah tidak,” jawab Wita. Saat itu suami langsung memintanya untuk mengecek kartu kredit. Ketika membuka dompet, sadarlah ia, kartu kredit sudah raib. Anehnya, beberapa ATM, tanda pengenal, dan uang tunai masih utuh. 

Lemas, bingung, sedih. Saat itu yang dilakukannya hanyalah menelepon pihak kartu kredit untuk segera memblokir. Namun sedikit terlambat, karena si pencuri sudah melakukan 4 kali transaksi pembelian emas. Wita kemudian berusaha mencari toko emas yang namanya tertera di email, namun gagal. Lagipula hari sudah malam.

Ia pulang kembali ke rumah sembari mencoba mengingat lagi lokasi yang ia singgahi hari itu, serta orang-orang yang berada di dekatnya. Tiga wanita dewasa itu kemudian muncul dipikirannya. Gerak-gerik mereka, cara duduk mereka, hingga kain dari pakaian yang menutupi tasnya.

Keesokan harinya ditemani suami, ia membuat surat kehilangan ke Polsek. Ia menuju ke kafe itu kembali. Ia meminta bartender kafe untuk mengecek CCTV. Walau rekaman samar-samar, nampak terlihat salah satu wanita tersebut mondar-mondir dan akhirnya ketiganya pergi dari lokasi, setelah diduga menggasak kartu kredit miliknya.

Ia melapor ke Satuan Pengamanan Mal Pondok Indah. Sekuriti membuat surat pengantar ke polsek terdekat, Polsek Kebayoran Lama. Meski tidak berharap banyak, ia menuju ke polsek yang dituju. Setelah menunggu penyidik yang tak kunjung datang, ia disarankan menuju Polres Jakarta Selatan. Ia tidak berharap uang kembali, namun ingin si pencuri mendapat efek jera.

Setelah membuat laporan di Polres Jakarta Selatan, ia kembali ke rumah. Namun, ia tidak pernah menerima kabar apapun dari kepolisian. Bahkan layaknya detektif, Wita mencari lokasi toko emas tempat si pencuri melakukan transaksi tersebut. Dan betul saja, si pedagang emas mengaku sering melakukan transaksi kartu kredit dengan Gestun terdekat senilai puluhan juta rupiah hanya dengan tanda tangan.

“Kami biasa kok gesek kartu kredit dengan jumlah lebih besar dari itu hanya pakai tanda tangan, selama ini tidak ada masalah,” ujarnya mengutip sanggahan si pedagang emas.

Wita kemudian meminta pertanggungjawaban pihak bank penerbit kartu kredit. Pasalnya, selama ini ia dan suami selalu melakukan transaksi kartu kredit menggunakan nomor identifikasi pribadi atau lebih dikenal dengan PIN demi keamanan. Bahkan penggunaan PIN tersebut sesuai perjanjian yang disepakati di awal. Sementara transaksi tak dikenal (pembelian emas) dilakukan hanya dengan tanda tangan. Pihak bank bergeming, menolak bertanggungjawab karena menganggap kelalaian tersebut ada pada pihak pemilik kartu. 

Setelah upaya nihil di kepolisian dan tidak adanya itikad baik dari pihak bank, ia memilih menyuarakan keluhannya di surat kabar dan majalah. Ia mempertanyakan, kenapa pihak bank dan merchant membolehkan pembeli melakukan transaksi kartu kredit hanya dengan menggunakan tanda tangan? Kenapa pihak merchant dengan mudah menerima pembayaran sebesar itu tanpa menyamakan nama yang tertera di kartu kredit dengan KTP pembeli? Lantas apa gunanya PIN?

“Keamanan transaksi menggunakan kartu kredit di Indonesia mengecewakan,” kata Wita. Ia sempat trauma menggunakan kartu kredit.

Wita mengingatkan kepada pengguna kartu kredit agar hati-hati membawa kartu kredit. Pasalnya, saat ini siapapun masih bisa leluasa berbelanja atau melakukan transaksi kartu kredit menggunakan tanda tangan. Parahnya lagi, kasir merchant jarang melakukan verifikasi tanda tangan nasabah.

Walhasil, orang lain yang menggunakan kartu kredit tersebut cukup membubuhkan tanda tangan seadanya, lantas bisa menggasak sepuasnya. Sudah jatuh tertimpa tangga pula. Kartu kredit hilang, duit raib, dan kini nasabah pemegang kartu yang harus membayar tagihannya setiap bulan sampai lunas.

Cerita kasus pencurian kartu kredit di atas mungkin saja pernah juga dialami Anda. Kejadian ini bisa menjadi pelajaran buat kita untuk lebih berhati-hati, termasuk soal keamanan kartu kredit. Meski penggunaan tanda tangan masih berlaku, tapi bakal dihapus tahun depan. Yang berlaku nantinya hanya PIN 6 digit.

About Lome

Check Also

Memanfaatkan Media Sosial untuk Branding Bisnis Saat Pandemi

Selama enam bulan terakhir, pandemi virus corona sudah merubah pola kehidupan masyarakat di bermacam bidang, …